0

Kasus Penodaan Agama Arswendo Atmowiloto, Angket Tokoh di Tabloid Mingguan Monitor (1990)

Tabloid Monitor adalah tabloid dibawah Kelompok Penerbit Gramedia, Aswendo Atmowiloto menjabat sebagai pemimpin redaksi dan penanggung jawabnya. Tabloid Monitor dinilai menjadi pioner media berbentuk tabloid. Dalam setiap edisinya, Monitor menyelenggarakan angket berhadiah untuk pembaca. Angket diisi oleh pembaca dengan menempelkan kupon dan dikirim ke redaksi. Angket yang terpilih akan mendapatkan hadiah berupa uang.
Salah satunya adalah angket berhadiah dengan pertanyaan, “Siapa tokoh yang anda kagumi dan apa alasannya memilih?” . Redaksi Monitor selanjutnya menyusun hasil angket berdasarkan jumlah yang paling banyak sampai yang paling buncit sebagai pilihan pembaca, lalu diumumkan di Tabloid Monitor edisi 15 Oktober 1990. Dari 50 nama yang teratas yang dikagumi, tercantum nama Nabi Muhammad pada urutan ke 11.
Hasil angket ini menyebabkan protes umat Islam. Arswendo dituding telah melecehkan Islam. Pada 17 Oktober 1990, massa datang sporadis, meneriakkan hujatan kepada Arswendo dan membakar habis patung Arswendo yang dibuat dari kertas tabloid Monitor. Dan pada 22 Oktober 1990, massa mengepung kantor Monitor. Mereka melempari kantor, menerobos ruang redaksi, mengaduk-aduk arsip, menghantam komputer, serta menjungkir-balikkan kursi dan meja.Organ-organ berbasis angkatan muda Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan kalangan Islam moderat menyudutkan dan meminta pertanggungjawaban Arswendo.
KPG dan Arswendo sendiri menyatakan permemohonan maafnya secara terbuka, yaitu : “Saya minta maaf. Sedikit pun saya tidak bermaksud menyengsarakan saudara-saudara semua.Tanpa ada yang memberi tahu pun, harusnya sudah tahu. Nyatanya saya bego. Sangat bego. Jahilun.” Sedangkan Tabloid Monitor dilarang terbit. Pada 23 Oktober 1990, SIUPP nomor 194/1984 dicabut oleh Menteri Penerangan Harmoko dan PWI mencabut keanggotaan Aswendo sebagai wartawan. Aswendo didakwa melanggar Pasal 156a huruf a KUHP dan dipidana 5 (lima) tahun penjara. Majelis hakim menyatakan bahwa angket yang menyamakan Nabi Muhammad SAW dengan manusia biasa jelas merendahkan derajat Rasulullah. Perbuatan itu, terhitung suatu penghinaan (yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan) terhadap agama Islam dengan menggunakan penerbitan pers.
Dalam kesaksiannya di persidangan uji materiil UU No.1/Pnps/1965, Aswendo menyatakan bahwa dirinya baru tahu-setelah kasus- bahwa membandingkan Nabi Muhammad dengan manusia lain adalah termasuk dalam penodaan. Sebelum itu tidak pernah ada penjelasaan mengenai hal ini. Menurutnya sebelum tabloid Monitor menampilkan hasil angket tersebut, sebuah Majalah Berita Tempo memuat angket yang kurang lebih hasilnya sama, namun tidak mendapatkan teguran, dan tidak mendapat persoalan apa-apa. Tempo memuat hasil riset seorang doktor yang melakukan riset dengan cara mengisi angketnya dari kalangan mahasiswa, hasilnya kurang lebih sama. Ada juga buku terjemahan dari luar negeri yang memuat juga membandingkan Nabi Muhammad dengan tokoh-tokoh yang lainnya dan selama itu tidak ada masalah apa-apa.

Filed in: Berita

Recent Posts

Bookmark and Promote!

Leave a Reply

Submit Comment

© 2014 Indonesia Toleran. All rights reserved. XHTML / CSS Valid.